Friday, July 3, 2009

Poverty City Tour

Hari ini berkesempatan pulang cepat, jadi sempat nonton Reportase Sore, ada satu segmen di bagian terakhir yang cukup menarik: city tour ke kawasan di Jakarta dengan penduduk ber-ekonomi lemah. Comment pertama gw: “wow, setelah wisata bencana lumpur Lapindo, sekarang ada wisata kemiskinan”. Eksploitasi kemiskinan? Mungkin saja, tapi kalau dilihat dari sudut pandang lain, wisata itu punya potensi untuk membuka mata peserta wisata mengenai kondisi aktual beberapa penduduk Jakarta, yang memang harus berusaha ekstra keras untuk menyambung hidupnya. Dan memang 50% dari pendapatan penyedia jasa wisata itu disumbangkan kepada masyarakat yang dikunjungi.

Sisi lain, ada juga yang menarik: kebanyakan pengunjung adalah orang asing. Apakah ini artinya masyarakat kita sendiri tidak mau peduli dengan kondisi penduduk Jakarta yang kurang beruntung itu? Atau karena sudah terbiasa melihat keadaan tersebut, kita jadi kebal, dan tidak lagi merasakan apapun ketika dihadapkan pada kondisi tersebut? Atau, mungkin bagi orang asing, kemiskinan merupakan barang baru untuk mereka?

Banyak kemudian pemikiran yang timbul dalam benak gw, salah satunya adalah efek jangka panjang bagi masyarakat yang dikunjungi. Apakah mereka akan malu karena merasa kemiskinannya ter-ekspose, kemudian berusaha sekuat tenaga untuk keluar dari kemiskinan itu, atau malah mereka menjadi bangga, karena dengan kondisi mereka yang miskin itu, mereka jadi bisa dikunjungi oleh bule2, dan mendapat “bagi hasil” dari keuntungan yang didapat dari penyedia jasa wisata.

Oh, well, apapun yang terjadi, semua terserah pada penduduk itu sendiri, karena walaupun mereka miskin, toh mereka tetap punya kekuatan atas nasib mereka sendiri. Tentunya kita pun harus menunjukkan kepedulian kita, jangan menjadi kebal dan ignorance atas kondisi mereka.

No comments:

Post a Comment